Jumat, 18 Januari 2019 | 17.23 WIB
KiniNEWS>SainsTek>Pendidikan>Fenomena Langka Gerhana matahari Total

Fenomena Langka Gerhana matahari Total

Selasa, 22 Augu 2017 - 15:16 WIB

IMG-3508

Gerhana matahari Total (Ist)

Jakarta, kini.co.id – Tata surya terdiri dari beberapa planet, salah satunya yang kita ketahui adalah planet Bumi. Planet Bumi tempat berkembang dan hidupnya manusia, bumi dapat menerima cahaya melalui Matahari disaat siang hari. Dan malam hari Bumi dapat menerima cahaya melalui Bulan.

Gerhana matahari total terjadi ketika posisi Bulan terletak di antara Bumi dan Matahari sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya Matahari. Walaupun Bulan lebih kecil, bayangan Bulan mampu melindungi cahaya Matahari sepenuhnya karena Bulan yang berjarak rata-rata jarak 384.400 kilometer dari Bumi lebih dekat dibandingkan Matahari yang mempunyai jarak rata-rata 149.680.000 kilometer.

Jika Anda ingin melihat gerhana Matahari, Anda harus berada dalam jalur bayangan Bulan, yang memiliki 3 bagian yang berbeda. Bagian pertama adalah, umbra. Umbra adalah bayangan tergelap dari 3 bagian bayangan Bulan. Wilayah Bumi yang dilalui jalur bayangan umbra akan melihat gerhana total. Pada saat itu, piringan Matahari tertutupi sepenuhnya oleh piringan Bulan.

Bagian kedua, adalah penumbra. Penumbra adalah bayangan Bulan bagian luar. Wilayah yang dilalui jalur penumbra akan melihat gerhana Matahari parsial (sebagian), dan langit tidak akan gelap seperti layaknya gerhana Matahari total.

Dan bagian ketiga, adalah antumbra. Antumbra merupakan Antumbra adalah wilayah pada bayangan gerhana Matahari di mana Bulan yang menutupi sepenuhnya terlihat di dalam cakram sumber cahaya (matahari). Seorang pengamat yang berada di wilayah antumbra sepenuhnya akan melihat peristiwa gerhana cincin. Kata Antumbra berasal dari bahasa latin yaitu ante artinya “sebelum” dan umbra artinya “bayangan”.

seperti yang terjadi Fenomena langka Gerhana Matahari Total menghiasi langit Oregon, Idaho, Wyoming, Nebraska, Kansas, Missouri, Kentucky, Illinois, Tennesse, dan terakhir Carolina Selatan. Bayangan Bulan akan melintasi negara-negara bagian tersebut selama kurang lebih satu setengah jam Senin (21/8). Gerhana matahari total kembali melintasi Amerika Serikat sejak terakhir terjadi pada tahun 1918 atau 99 tahun lalu.

Pemandangan bayangan bulan melintas langsung di depan matahari yang menampakkan noda pada seluruh permukaannya kecuali lingkaran cahaya korona surya itu mungkin akan menjadi peristiwa astronomi yang paling banyak menarik penonton dalam sejarah manusia.

Ketika mereka yang menyaksikan melalui siaran langsung dan media daring diperhitungkan di dalamnya, jumlah penontonnya berpeluang melampaui rekor.

“Itu jelas akan menjadi gerhana total yang paling banyak di amati dalam sejarah,” kata astronom Rick Fienberg dari American Astronomical Society (AAS) pekan lalu.

Editor: Rosdiana

KOMENTAR ANDA
Berita SainsTek Terkini Lainnya
Ilmiah - Selasa, 15 Januari 2019 - 17:40 WIB

Pada 21 Januari, Indonesia alami supermoon

FENOMENA supermoon atau gerhana bulan total bisa diamati dari seluruh kawasan di Indonesia pekan depan. Kepala Lembaga Astronomi dan Penerbangan ...
Teknologi - Jumat, 11 Januari 2019 - 12:06 WIB

Pembangunan pabrik baterai mobil listrik di Morowali diresmikan

MENTERI Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto melakukan peletakan batu pertama, yang menandai mulai dibangunnya ...
Seluler - Sabtu, 5 Januari 2019 - 23:07 WIB

Oppo R17 Pro, smartphone mewah dengan deretan fitur canggih

VENDOR smartphone asal China Oppo, akhirnya merilis perangkat terbarunya di Indonesia yakni Oppo R17 Pro. Perangkat Oppo R17 Pro ini ...
Teknologi - Sabtu, 5 Januari 2019 - 22:29 WIB

Danau Subglasial seluas Jakbar di Antartika dibor ilmuwan

ILMUWAN yang tergabung dalam proyek Subglacial Antarctic Lakes Scientific Access (SALSA) melakukan pengeboran dengan kedalaman hampir 1,1 kilometer di danau ...
Ilmiah - Minggu, 30 Desember 2018 - 00:07 WIB

Status awas Anak Krakatau adalah hoaks

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan tidak benar status Gunung Anak Krakatau telah meningkat jadi Awas atau level IV. Status ...
Ilmiah - Senin, 24 Desember 2018 - 17:28 WIB

Mbah Rono: Anak Krakatau belum stabil, rawan longsor

KONDISI badan Gunung Anak Krakatau masih belum stabil saat ini. Gunung api laut itu berpotensi kembali longsor dan menyebabkan tsunami ...