Jumat, 18 Januari 2019 | 17.00 WIB
KiniNEWS>SainsTek>Pendidikan>Sylvi Dhea Edukasi Pengguna Internet untuk Generasi Anti Hoax

Sylvi Dhea Edukasi Pengguna Internet untuk Generasi Anti Hoax

Jumat, 2 Juni 2017 - 15:25 WIB

IMG-3415

Sylvi Dhea Angesti, Miss Internet Sumatera Utara 2017 (Glanz Publisher)

Medan, kini.co.id – Hoax umumnya dikenal sebagai informasi yang direkayasa untuk menutupi informasi sebenarnya. Hoax merupakan seni berbohong atau dusta yang sengaja disamarkan sebagai kebenaran dengan cara memutarbalikkan fakta menggunakan informasi meyakinkan tetapi tidak diverifikasi kebenarannya.

Menurut Sylvi Dhea Angesti, Miss Internet Indonesia Sumatera Utara 2017, hal itu berbahaya, karena kebohongan yang diulang-ulang bisa dianggap menjadi kebenaran atau berita yang kemudian dipercayai oleh publik.

Kata darah kelahiran Medan, 20 Juli 1997 ini dalam upaya menekan perkembangan dan penyebaran berita berisi kebohongan atau sering disebut hoax, pemerintah memerlukan peran generasi muda untuk ikut berpartisipasi mewujudkan media sosial yang lebih baik.

Karena menurutnya media sosial bisa mengubah seseorang yang terlihat diam di kehidupan nyata namun menjadi kasar dan tidak santun di dunia maya.

Sylvi telah melakukan kegiatan edukasi seputar internet ke berbagai sekolah yang ada di kota Medan maupun luar kota Medan. Baru-baru ini ia melakukan kegiatan edukasi internet di salah satu sekolah SMP yang ada di kota Medan. Ia mengajak para pelajar selaku pengguna internet aktif agar menggunakan media sosial dan menyaring informasi secara baik dan benar. Ia juga memberikan edukasi mengenai literasi media.

Menurutnya, Literasi media khususnya literasi media sosial akan memberi edukasi dan pemahaman kepada masyarakat khususnya anak-anak dan remaja mengenai cara menggunakan media sosial ke arah positif.

Media yang merupakan pilar keempat demokrasi seharusnya bisa memberikan kritik yang membangun. Namun berita hoax tidak dapat disebut demokrasi karena berisi pesan fitnah dan pembohongan informasi.

Kemajuan teknologi digital dengan tersedianya aplikasi perbincangan seperti Line dan What Apps serta media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, Path, Youtube, membuat pengguna nyaman berselancar di dunia maya.

Namun bak dua sisi pada sekeping mata uang, hal ini juga diikuti dengan rasa ketidaknyamanan lantaran banjir informasi pada para pengguna internet. Membanjirnya informasi tersebut dapat merusak konsentrasi para pengguna internet untuk memilah mana berita yang baik dan benar.

“Kita sebagai pengguna internet aktif harus bisa memilah apakah berita-berita tersebut faktual atau hoax. Ini harus kita antisipasi bersama karena akan menuju suatu perpecahan konflik dan provokasi yang nantinya akan semakin besar bila kita tidak mencegahnya sedini mungkin. Berita yang lewat media sosial, lewat berbagai akses pemberitaan dengan teknologi yang canggih ini terlalu cepat perputarannya sehingga belum sempat kita menelaah atau bisa mengkonfirmasi apakah berita itu faktul atau memang sifat pemberitaannya memang hoax,” tutur Top 15 th Miss Internet Indonesia 2017 ini.

Mengutip data pengguna internet di Indonesia menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), saat ini mencapai 132 juta dan 100 juta lebih menggunakan ponsel pintar.

Survey lain juga mengatakan bahwa kini dengan adanya pemberitaan hoax di berbagai media sosial dan lain sebagainya, peminat untuk mengikuti berita-berita hoax lebih banyak presentasenya daripada yang mengikuti pemberitaan yang faktual. Artinya, masalah ini akan terus menyebar luas.

Sylvi juga menegaskan bahwa Hoax yang disengaja bertujuan membuat masyarakat merasa tidak aman, tidak nyaman, dan kebingungan.

“Dalam kebingungan, masyarakat akan mengambil keputusan yang lemah, tidak meyakinkan, dan bahkan salah langkah. Generasi milineal adalah generasi yang paling rentan terhadap berita palsu atau hoax sebab pola piker mereka terbilang masih labil. Mereka yang memiliki pola pikir kurang kritis, akan menyebarkan berita paling menarik dan sesuai dengan kecenderungan ideologinya, walaupun keakuratannya dipertanyakan,” tutur mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara yang hobi menulis ini.

Masih menurut Sylvi, apabila seseorang membuat atau menyebarkan informasi yang tidak benar, mengandung ujaran kebencian, menyinggung SARA, maka bisa terjerat UU ITE. Ancaman hukuman penjara selama 4 tahun dan denda maksimal 700 juta, berlaku bagi orang yang menyebarkan atau men share berita hoax tersebut.

Untuk itu Sylvi berharap agar pengguna aktif internet khususnya generasi muda Indonesia dapat memilah dan memilih konten media secara kritis sehingga memanfaatkan media sesuai dengan kebutuhannya.

Editor: Rakisa

KOMENTAR ANDA
Berita SainsTek Terkini Lainnya
Ilmiah - Selasa, 15 Januari 2019 - 17:40 WIB

Pada 21 Januari, Indonesia alami supermoon

FENOMENA supermoon atau gerhana bulan total bisa diamati dari seluruh kawasan di Indonesia pekan depan. Kepala Lembaga Astronomi dan Penerbangan ...
Teknologi - Jumat, 11 Januari 2019 - 12:06 WIB

Pembangunan pabrik baterai mobil listrik di Morowali diresmikan

MENTERI Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto melakukan peletakan batu pertama, yang menandai mulai dibangunnya ...
Seluler - Sabtu, 5 Januari 2019 - 23:07 WIB

Oppo R17 Pro, smartphone mewah dengan deretan fitur canggih

VENDOR smartphone asal China Oppo, akhirnya merilis perangkat terbarunya di Indonesia yakni Oppo R17 Pro. Perangkat Oppo R17 Pro ini ...
Teknologi - Sabtu, 5 Januari 2019 - 22:29 WIB

Danau Subglasial seluas Jakbar di Antartika dibor ilmuwan

ILMUWAN yang tergabung dalam proyek Subglacial Antarctic Lakes Scientific Access (SALSA) melakukan pengeboran dengan kedalaman hampir 1,1 kilometer di danau ...
Ilmiah - Minggu, 30 Desember 2018 - 00:07 WIB

Status awas Anak Krakatau adalah hoaks

BADAN Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan tidak benar status Gunung Anak Krakatau telah meningkat jadi Awas atau level IV. Status ...
Ilmiah - Senin, 24 Desember 2018 - 17:28 WIB

Mbah Rono: Anak Krakatau belum stabil, rawan longsor

KONDISI badan Gunung Anak Krakatau masih belum stabil saat ini. Gunung api laut itu berpotensi kembali longsor dan menyebabkan tsunami ...